Monday, March 07, 2005

Ketika Banjir Menyentuh Nurani




Banjir tuh emang nyebelin, aku memutuskan balik ke rumah mamah di jatiwarna, gara-gara kemaren Kamis (03-03-05), tempat mama di Duren Sawit banjir, dan airnya masuk ke kamar! Kejadiannya berlangsung tengah malam menjelang pagi (sekitar jam 01.00 dini hari gitu deh!). Kami berdua betul-betul ga nyangka kalo airnya masuk sampai ke kamar kami, soalnya paling banter air masuk sampai dapur aja. Duh…buku-buku dan peralatan ngajarku habis semua, kerendem banjir. Foto-foto pernikahan kami nyaris jadi korban, Alhamdulillah sempat diselamatkan berikut klise-nya.

Ehhhh, ternyata, kemarin minggu tuh sebagian saudara kita di Bekasi Selatan dapat rejeki banjir juga! Kemaren hampir semua berita di televisi memberitakan peristiwa ini (hehehe, kecuali spacetoon, soalnya masih siaran percobaan). Karena ada salah satu tanggul Sungai Cikeas yang Jebol, beberapa wilayah di Bekasi Selatan jadi terendam banjir. Ga tanggung-tanggung, banjirnya mencapai 2.5 M, Masya Allah!!! Beberapa wilayah yang sempat aku dengar terkena banjir adalah perumahan Kemang IFI, perumahan Pondok Gede Permai, Perumahan Villa Nusa Indah (entah yang seri berapa nih, pokoknya yang paling deket kali mungkin yaaaa), Perumahan Bumi Satria Kencana, Perumahan Villa Jatirasa (hah?!). Yang terakhir ini cukup membuat kita berdua terkejut dan ketar-ketir. Pasalnya, our future home terletak di depan lokasi perumahan tersebut. Kalo kami berdiri di belakang rumah kami, sejauh mata memandang akan tampak atap-atap dari perumahan Villa Jatirasa. Artinya, lokasi perumahan ini memang cukup rendah dibanding tempat kami tinggal kelak.
Minggu siang, Mas Indra sempat mendatangi lokasi rumah kita, trus disana dia dapat kabar bahwa perumahan yang lokasinya lebih rendah dari perumahan kita terendam banjir hingga 2.5-3M. Mas Indra bahkan sempat melihat dari belakang rumah kami, beberapa penduduk yang menyelamatkan diri ke atas atap rumah mereka. Lokasi perumahan kami akhirnya menjadi salah satu tempat evakuasi, terutama mobil-mobil milik penghuni perumahan tersebut. Denger-denger, beberapa perahu karet sempat di operasikan untuk mengevakuasi warga yang terkena banjir tersebut.

Duh….kalo liat seperti itu, kayaknya koq aku masih harus lebih bersyukur. Ya iyalah! Sementara aku hanya mengalami kebanjiran 3 cm aja udah panik, ketakutan kayak mo diserang Tsunami. Gimana mereka yang rumahnya terendam hingga 2.5-3M yaaaaa. Aku yang kebanjiran 3 cm aja ribut karena karpet di kamar jadi basah dan susah kering, trus jadi bikin bau kamar lagi, gimana yang banjirnya lebih besar ya….yang mungkin lumpur yang tebal akan menghiasi rumah mereka.
Duh….ampuni hambaMu yang tiada pernah bersyukur ini Ya Robb……..

Thursday, March 03, 2005

"The Gift"



gambar kakak, kata dr Jacoeb umurnya dah 1.5 bulan

Allah Maha Besar!!! Kata-kata itu yang kemarin tiada henti terucap dari bibir kami berdua.
Sobat, sudah setahun berlalu usia pernikahan kami. Sejak awal pernikahan kami, kami selalu berharap Allah segera mempercayakan dan menitipkan amanahNya kepada kami. Namun mungkin Allah berkehendak lain, dalam Husnudzon kami kepada Nya, selalu kami saling menghibur, “Oh…mungkin Allah sedang menguji kesabaran kita berdua” atau malahan “Oh…mungkin Allah memberi kita kesempatan untuk berlama-lama berdua (ehem!) *mode: berkedip-kedip*(mengingat waktu perkenalan kami sebelum menikah yang sangat singkat yang membuat kita hingga hari ini, terkadang masih menemukan hal-hal baru di diri kita masing-masing).”
Hingga kemarin, Senin 28 Februari 2005, hari itu kami berdua dapat rizki sakit Flu hebat yang memaksa kami untuk ambil sick leave. Siang itu mas Indra memaksa aku untuk berobat ke rumah sakit Mitra Keluarga Jatinegara. Kami konsul dengan dr Ina Gunawan (dokter umum yang cantik dan ramah!)

+“Ibu Tita & Pak Indra……..apa keluhannya” begitu sang dokter menyambut kami dengan ramah disertai dengan uluran tangan ramah

- “Ini dok, saya dan suami flu berat, sampai-sampai kami hari ini tidak masuk” jawabku menerangkan.

Sang dokter tersenyum dan mempersilahkan aku untuk diperiksa terlebih dahulu.

+ “Ibu sedang menyusui?”tanya sang dokter sambil memainkan stetoskopnya

- “Engga dok” jawabku singkat

+ “Sedang hamil?”Tanya sang dokter penasaran, kali karena dia liat tampilan aku yang seperti orang hamil (baca: endut)

+ “Hamil? Wah….nda tau ya Dok?” jawabku sedikit acuh, paling males ditanya seperti itu, soalnya udah capek dan pasrah

- “Lho…..emang Ibu terakhir haid kapan?”Tanya sang dokter lagi

+ “Kapan yaaaaa, pokoknya sama hari ini, saya sudah telat 2 minggu.”jawabku innocent.

- “Hah?! Lho emang Ibu belum periksa?”Tanya sang dokter dengan nada kaget

+ “Belum…..males dok, saya khan masih terapi, abis laparoskopy, jadi…ntar aja nunggu telat 3 minggu, baru balik ke dokter saya, atau kalo emang hamil, nunggu empat bulan sampe ada yang berasa bergerak-gerak di perut saya”balas saya kalem lagi.

Sang dokter makin kaget, alis matanya sampai menyatu, tanda keheranan mendengar jawaban aku.
Emang sih…….sejak terakhir sempat telat dua minggu, tapi ga jadi, aku udah males banget yang namanya preg test. Beli test pack aja kayaknya berasa cuma jadi penyumbang apotek. Maunya…biar ntar dah telat 4 bulan, janinnya bergerak-gerak sendiri, jadi ketauan deh…kalo hamil! Atau kayak si Ayuk, yang ngebatuin nyuci di rumah, dia baru sadar kalo hamil, setelah usia kandungannya 8 BULAN!!!! Masya Allah!

“Ya udah, Ibu saya kasih pengantar ke lab untuk preg test, saya takut soalnya kalo ternyata Ibu benar hamil, obat yang saya berikan membahayakan kandungan Ibu.”kata sang dokter sambil menulis rekomendasi lab.

Singkat cerita, akhirnya aku diantar mas Indra melakukan preg test di lab. Itu juga kami masih tanpa pikiran apa-apa, santai……ga expect bakal terjadi sesuatu. Hingga akhirnya………

(di depan loket tempat pengambilan hasil preg test)

“Allahu Akbar….Alhamdulillah!!” hanya pekikan kecil itu yang terucap di bibir kami masing-masing, ketika melihat tulisan POSITIF di kolom hasil preg test.

Kenapa Allahu Akbar? Karena memang hanya karena kehendakNya sajalah aku hamil.
Sebagai info, terakhir aku ke dokter, hasil USG menyebutkan sel telur yang ada di indung telurku kecil-kecil. Secara teori dan ilmu kedokteran, MUSTAHIL terjadi pembuahan, tapi dokter mengingatkan aku bahwa ada Kuasa Allah di sana. Dan itu yang timbul menjadi keyakinan di hati ini. Rasanya ingin sekali disetiap detak nadi dan aliran darah ini, aku terus memujiNya, bersyukur atas kemurahanNya, dan mengakui kebesaranNya.

Trus…malamnya, untuk lebih meyakinkan lagi, kami mendatangi dr T.Z Jacoeb di prakteknya di daerah kebayoran. Sang dokter meng-USG aku, “nih Pak…..jantungnya berdetak…..”kata sang dokter sambil memperlihatkan gambar detak jantung kakak (begitu kami akan memanggilnya hingga dia lahir kelak). “Subahanallah……….so tiny banget yaaaaa”aku dan mas Indra bergumam. It’s so amazing! Menyaksikan kebesaran ciptaanNya. Bayangkan makhluk kecil yang boleh dibilang tidak berdaya itu harus berjuang untuk bertahan dan berkembang dalam rahim yang gelap, hanya karena kemurahan dan kebesaran kuasa Allah semata saja! Perasaan kami berdua makin tidak menentu!

Jadi kalo aku akhirnya hamil, bukan karena nginjek jempol kakinya encim, bukan pula karena pijat refleksi, bukan karena minum sari buah wamena (ih…..yaks!!!).
Karena izin Allah-lah akhirnya aku hamil, karena izin Allah pula-lah dr T.Z Jacoeb dapat mengobati endometriosisku dan mempermudah kehamilanku. Allah-lah yang berkehendak, Allah-lah yang Maha Kuasa.
Sobat…doakan supaya saya selalu sehat dan segalanya berjalan dengan lancar hingga InsyaAllah melahirkan kelak, AMIN.

“Hanya sesungguh-Nya, apabila Dia menghendaki sesuatu Dia berkata kepadanya, ‘Jadilah!’ maka jadilah ia. ” (QS 36:82)

Friday, February 25, 2005

Untuk Sahabat Kami........

Satu lagi temanku pergi lebih dahulu menghadap Sang Khalik. Siang itu Selasa 22 Februari 2005, milis alumni SMAN 42, tempatku bergabung, dikejutkan oleh berita kematian Garna, teman kami pada kecelakaan pesawat CASA 212 di Papua. Dia tewas bersama dengan keempat rekannya dari Kepolisian RI dan penumpang pesawat kecil itu.
Sejenak terlintas kenangan kami ketika masih bersama-sama di bangku sekolah dulu, ketika sama-sama masih mengejar cita-cita,

“Gue pengen jadi penerbang Myr”begitu selalu katanya pada Merta, sahabatku. Kami berenam selalu bersama-sama, aku, Merta, Ririn, Budi, Rinda, dan Garna. Dari kami berenam, hanya Garna yang kuat tekadnya untuk menjadi penerbang dan berhasil wujudkan mimpinya itu. Sedang aku dan kelima lainnya, karena satu dan lain hal, akhirnya menjadi apa yang bukan impian kami sesungguhnya.
Berenam kami merajut asa, belajar bersama, hingga akhirnya waktu lah yang memisahkan kita.
Terakhir aku dengar kabar, hanya Garna yang sukses mewujudkan cita-citanya setelah melewati berbagai rintangan.

Tentunya kamu bahagia ya Na, dan pasti ibumu bangga ;) aku dengar juga kamu telah mewujudkan keluarga bahagia yang sudah dikaruniai dengan Garna-Garna kecil. Sayang, karena kesibukan kita masing-masing, silaturahmi itu harus terputus.
Dan reuni itu akhirnya terjadi di tempat itu, Hanggar Direktorat Polisi Udara, Sore 23 Februari 2005, kami melepasmu dengan rasa ikhlas. Diiringi oleh isak tangis penuh haru dari orang tua, kakak, dan istrimu, kami semua menyambut kedatangan peti jenazahmu. Sama sekali aku ga pernah menyangka kita akan bertemu lagi ketika kamu sudah terbujur kaku dalam peti jenazah berselimutkan bendera merah putih. Allahu Akbar!!! Engkau Maha Besar Ya Robb, dadaku bergetar, peristiwa di depan mata kami ini makin menyadarkan betapa kecilnya kami sebagai hambaMu, dan betapa tiada berdayanya kami.
“Dia lihat kita engga ya Ta?”kata-kata Merta menyadarkan aku dari lamunan. Aku tersenyum, tenggorokanku tercekat, terharu mendengar tangis keluarganya. Merta menarik tanganku mendekati peti jenazah yang telah diletakkan di tempatnya, “pengen liat fotonya Ta……..”
Duh….Na…..kamu persis seperti kita terakhir bertemu, dengan seragam kebanggaanmu, kala itu kamu begitu bangga, trus pamer deh ke kita-kita ;) setelah lulus jadi penerbang POLRI. Garna yang bahagia akan cita-cita yang menjadi nyata, Garna yang bahagia karena bisa membanggakan Bunda tersayang.

Dalam hati aku berbisik, “Ya Robb……..Engkaulah yang Maha Besar, Engkaulah yang Maha Kuasa. Duhai Kekasih Hati, kemarin Engkau panggil Rizki, hari ini Garna, kami semua menanti panggilan mesraMu untuk bisa bersamaMu dan UmatMu yang Engkau cintai dan kasihi. Terimalah dia Ya Robb, teman kami, jadikan kematiannya adalah syahid dijalanMu, karena ia sedang berjuang demi keluarganya. Maafkan semua kesalahannya, tempatkan dia kelak dalam JannahMu. Berikan kesabaran kepada keluarga yang ditinggalkannya. Jadikan apa yang terjadi ini menambah cinta kami kepadaMu dan mengingatkan kami akan tujuan kami sesungguhnya. Amien……...”

Mengenang perginya rekan & sahabat kami, Garuda Giwangkara GK, pada kecelakaan pesawat di Sarmi, Papua, Selasa 22 Februari 2005.

Tuesday, February 22, 2005

Saat Kesempatan itu Datang




Ngomongin soal cita-cita, mungkin aku adalah satu orang yang antara apa yang diinginkan (baca: cita-cita) jarang match sama kenyataannya. Ups…..tapi tunggu dulu, nanti sobat yang baca bakal mencap aku orang yang ga bersyukur. Engga…..sama sekali engga….aku bersyukur koq, SANGAT.
Cara aku bersyukur adalah dengan mensiasati keadaan (ya dengan me-match-kan apa yang aku dapat dengan apa yang aku mimpikan, seolah emang itulah yang aku inginkan), sehingga apa yang aku genggam di tangan bukan menjadi hal tiada pernah aku syukuri.

Seperti misalnya, dulu tuh…pengennnnn banget kuliah di UI. Tahun pertama UMPTN ga tembus, tahun kedua….sama, tahun ketiga akhirnya Alhamdulillah tembus, walaupun sampai hari ini ga pernah kelar karena bingung bagi waktu sama kuliah di Trisakti, tetep aja aku puas, sing penting aku punya JAKET KUNING juga!!!!
Itu salah satu contoh, lainnya lagi dari dulu aku pengen kerja yang engga terikat ruang dan waktu. Dari mulai cyber office sampe pengen jadi pengarang tulisan populer, tapi ternyata yang terakhir itu ga mungkin jadi kenyataan, soalnya sumpah! bahasa aku tuh jelek banget, ga mendukung untuk jadi penulis populer.
Salah satu cara untuk bekerja tanpa dibatasi ruang dan waktu adalah mengajar (don’t say kalo itu dibatasi ruang kelas, karena memang….tapi khan soal waktu kita ga terikat seperti pekerja kantoran, iya ngga?). Apalagi kita kaum perempuan, enakkan…..tanpa meninggalkan kewajiban sebagai istri dan ibu bagi anak-anak, bisa ikutan bantu-bantu suami, sambil beraktualisasi diri (cieeeeeeeeee, tua ya?!). Apalagi sejak menikah, keinginan itu tambah besar, biar lebih banyak waktu bersama-sama suami, gitu ceritanya ;). Tapi mo langsung ngajar di perguruan tinggi ternama khan susah, banyak syaratnya. Harus pinter lah, harus S2 lah, akhirnya aku putuskan, kerja dulu demi ngumpulin duit dan ngajar di sekolah apa aja (ga penting tenar) demi jam terbang.

Nah…setelah sekian lama hanya mengajar demi mengumpulkan jam terbang, terus bela-belain sekolah lagi biar mudah dapat akses buat ngajar di Perguruan Tinggi. Alhamdulillah kemarin Jumat aku dapat panggilan dari sebuah perguruan tinggi swasta ternama dibilangan Kalibata. Ini adalah profesi yang selama ini aku impi-impikan, bebas ngatur waktu dan minimum pressure. Awalnya ditelpon untuk ujian TPA, tapi setelah tiba di lokasi yang ditentukan, baru tahu kalo hari Sabtu kemaren itu hanya briefing buat calon dosen. Baru tau karena ternyata secara informal, yang dipanggil kemaren tuh udah jadi dosen tamu di sekolah tersebut. Tapiiiiii karena aku pinginnya jadi dosen tetap, minggu depan, aku masih harus mengikuti serangkaian tes, diantaranya presentasi mengajar di depan pimpinan akademik sekolah tersebut dan beberapa dosen senior. Mohon doa-nya ya sobat…….smoga apa yang aku cita-citakan ini bisa tercapai.
Kalo dalam minggu ini aku jadi ga rajin nge-blog, karena sibuk mempersiapkan diri buat “hari besar”itu, trus juga tetep dengan kerjaan yang “tetep”segunung, ditambah dead-line hasil karya Pelatihan buat dipresentasikan di depan para tutor.

Friday, February 18, 2005

Akhirnya aku BISA!!!

Alhamdulillah….akhirnya karya aku yang pertama bisa di launch di Geocities. Ceritanya, beberapa minggu yang lalu aku dapat tawaran menarik, setelah gabung sama IMB, buat ikutan “Pelatihan Membuat Web Site Sederhana.” Dibilang sederhana, emang sederhana banget, soalnya sarana buat membuatnya pake software Front Page yang umumnya dah ada di kompi kita-kita. Jadi ga pake Java, Linux, Ninux, Tinux…(hehehe, yang terakhir becanda lagi!). Trusssss, dimulailah pengalaman pertama aku ikutan distance learning (cieeeeeeeee), iyalah…soalnya tutornya dari Jepang semua (bukan orang Jepang, tapi orang Indonesia yang domisili di Jepang).

Minggu pertama belajar, dikirimin modul (alhamdulillah sampe hari ini udah modul keempat). Biarpun distance learning, bukan berarti kita ga ngapa-ngapain, lebih berat lagih! Soalnya kita kudu baca modul yang diberikan. Once ada conference (ini temu muka-nya distance learning) diharapkan kita punya pertanyaan.

Nah……waktu conference call (CC)pertama aku ga ikut, Cuma jadi peserta pasif, tapi aku juga ga diam aja. Kelar CC pertama, semua dialog aku copy paste ke words, hasilnya, aku punya kertas catatan yang aku bisa baca, maklum kala itu aku sedang diuber kerjaan kantor yang nggilani trus dead-line bikin bahan ngajar di 2 tempat. Tapi bukan berarti sejak modul pertama dikirimkan aku ga baca, baca donk….soalnya setelah modul ke-2 aku langsung praktek, ngutak-ngutik Fpage. Obyeknya…..apalagi kalo bukan tempat aku ngajar, sebuah perguruan tinggi swasta di sudut Jakarta (;p).
Hasilnya, conference kedua aku bisa ikut meramaikan, minimal dengan problem up load. Alhamdulillah! Sore kemarin (17/02/2005) salah seorang tutor, Ibu Ummu Thoriq, nge-PM aku, nanya kesulitan aku. Tambah kebantu lah aku. Plus tadi pagi waktu masih buntu juga dengan masalah up load, aku dipersilahkan (kayaknya beliau deh) Ummu Thoriq lagi. Duh senangnya……pencerahan sekali, hingga akhirnya………EUREKA!!!!!!!! Walaupun masih nemu kegagalan, paling engga udah ada kemajuan yang aku dapatkan.
Duh…..makasih bu guru semua…berkat ibu-ibu semua, aku dapat ilmu lagi, smoga bisa aku bagi ke yang lain.

Btw, tau ga kepuasan seorang guru……..pengalaman membuktikan, buatku, paling membahagiakan kalo orang yang kita ajari jadi bisa, apalagi melebihi gurunya.
Yang pasti buat bu guru semua (dan guru-guru saya dimasa yang lalu) smoga Allah membalas kebaikan anda semua lebih baik lagi, dan semoga Allah ridho. Amien.

Thursday, February 17, 2005

Food Court PGC (riweuh euy...)




Pernah makan di food court-nya PGC ? (jgn ketawa yaaaa!). Iya. PGC stands for Pasar Grosir Cililitan. Udah deh…jangan diketawain lagi, sebagai karyawan di sebuah kantor yang lokasinya nyelip di pedalaman halim, PGC merupakan salah satu alternatif tempat makan yang lumayan (selain pasar mini dan warung padang pojokan sekolahan).
Sebetulnya makanan yang ditawarkan lumayan lah…..cukup representative- lah…..tapi itu lho yang mengganggu……kalo kita baru aja datang, trus keliatan celingak-celinguk nyari tempat makan, para waiter langsung menyerbu kita. Kayak laler nyerbu tempat sampah (idih!!!). Perut yang tadinya laper, mendadak kenyang, udah gitu mereka maksa lagi.
Ihhhhh!!!!

“Ini aja buw…..satu paket ayam goreng udah sama lalapan cuma 8000” gitu salah satu promo mereka.
Yang ngga fair (menurut aku ya…) mereka tuh suka membandingkan dagangannya dengan dagangan tetangganya. Jadi kalo tetangganya (biasanya resto yang udah punya nama dan punya cabang dimana-mana) kasih tarif X, nah mereka akan kasih tarif X-1. Ga fair khan….kalo mo bersaing, mbok yao dari segi rasa donk (itu khan yang mereka harus pertaruhkan) atau pelayanan yang lebih bersih, manis, dan sopan, ga maksa-maksa kayak gitu. Emang siy harganya mursida, tapi…begitu diliat….ehhhhhh ayamnya cuma sa’menel gitu!!! (imoet banget gitu lho!). Akhirnya khan kita para penikmat cuma bisa ngebatin “price don’t lies.”

Sempat berpikir, apa karena para pasukan waiter itu di target sama yang punya kios, buat nutupin biaya operasional (iyalah, sewanya lumayan maharani…..hehehe iki opo toh bahasane?), tapi koq malahan menstimulasi mereka jadi brutal gitu ya (ya engga terlalu brutal banget siy), nawarin sambil maksa-maksa, dan ga brenti nawarin sampe dibentak orang. Sebetulnya nyakitin khan, mosok kerja koq harus dibentak-bentak, emang jaman Jepang?! Tapi ga semua food court punya keajaiban kayak ghitu lho! Ga usah lah ngambil contoh Plaza Senayan, atau Pondok Indah Mall (iki perbandingane koq ga apple to apple yo?), ga usah jauh-jauh, tengok food courtnya Pondok Gede Plaza (horeeeeee, kampung halaman tercinta), kayaknya suasanya ga seheboh di PGC. Tetep ada siy yang namanya waiter berpromo, tapi mereka hanya sebatas bagi-bagiin brosur yang isinya promo diskon di warung mereka. Sopan enough khan? Lagian rejeki juga ga kemana. Input niy, buat yang bakal buka resto….yang penting rasa!!!

Trus, berhubung buat kami yang berkantor di Halim, mau engga mau PGC masih harus berada di daftar tujuan makan kami, jadi strateginya kalo kesana, begitu nyampe di lantai 3 ato 3A, pasang muka cuek ga butuh, trus tangan siap-siap dadah-dadah (sukur-sukur punya kaca mata item, biar kayak man in black), dah gitu jalan lurus sambil milih warung mana yang kira-kira menarik, trus sambil bilang…”engga…engga….engga….” Kalo mereka masih nyamperin juga, ya nasib lah….!;p

Wednesday, February 16, 2005

Aku Jutek (am I.................)




Banyak orang yang baru ketemu sama aku katanya aku jutek (jutek means judes). Apa iya siy???

Fifin : “ho’oh….loe tuh nakutin…kalo lagi bae…bae banget, kalo lagi jutek…amit-amit dah”
Mas Pandu: “lagh….baru nyadar kamu????”
Mba Ephoy: “heuheuheu, loe mah ga kenal PMS, jutek mah jalan trussssss”
Mamah: “mbok ya jangan judes-judes Ta…..orang takut lho sama kamu, kendalikan emosi itu lho.....”
Mas Indra: “emang……….;p” (kalem banget)
Masya Alloh –shocked-……itu beberapa orang yang kenal aku (banget), dan semuanya mengamini.

Duh…..separah itukah aku ;(. Yang pasti beberapa orang bilang, kalo mood-ku lagi ga bagus, gampang banget keliatan rautnya berubah, trus orang-orang jadi males deketin aku. Liat aja comment-nya mas Indra, yang (garis bawah, trus di bold) suami aku sendiri –hurmph-. Emang siy, ada beberapa waktu dimana emosi kadang mengalahkan erosi (hehehe, apa coba!), apalagi kalo lagi tanggal-tanggal laporan, sementara kerjaan lain juga ikutan nguber, bisa dipastikan yang deketin aku bakal dapet hadiah muka asem! Tapi khan ga saban hari -muka mohon persetujuan.

Benernya aku juga pengen berubah, pengen jadi orang yang dikangenin sama semua orang. Ga pengen jadi orang yang di-horror-in orang. Pak Deddie pernah bilang, “si Dikdik takut tuh Ta sama kamu, kemaren dia mo minta tolong sama kamu, tapi dia jadi ngeri liat tampang kamu yang koq ga bersahabat banget.” (abisnya.....diuber dead-line laporan, eh ditambahin kerjaan pula!)
Teguran Pak Deddie sebetulnya sentilan banget buat aku. Iya lah, aku jadi berasa kenapa si Dikdik yang biasanya ramah, mendadak jadi sedikit banget omongnya sama aku.

Gimana ya supaya aku ga jutek, minimal orang yang liat muka aku tuh berasa adem…….
Ada tante aku yang bilang, katanya aku tuh sudah keturunan punya muka judes, soalnya hampir semua para famili punya muka jutek. Lho?!….turunan koq muka judes….turunan mbok yao jadi orang kaya gituh…….;p
Okay…kalo soal muka, ummmm……… mo bilang apa yaaa, dah dari sononya, hiks…hiks…hiks-sedih….paling mungkin banyakin senyum aja kali ya……tapi itu lho….sifat moody aku yang ga jelas juntrungannya, kalo lagi baek, bisa baeeeeeeeeeeeeeekkkkk banget. Kalo lagi jutek…..ampun dah! nakutin orang.
Atau mungkin aku harus berusaha tidak boleh dikendalikan mood kali yaaaaa, harusnya mood yang aku kendalikan, jadi orang-orang disekitar aku merasa nyaman dengan kehadiran aku.

hope so.......

Monday, February 14, 2005

Ketika akhirnya aku suka SINETRON

Uffff…It’s Monday (lho koq Uffff siy?!), masuk minggu-minggu bikin laporan seperti sekarang ini, Alhamdulillah ga terlalu bete seperti biasanya, mungkin efek liburan dua Rabu-Kamis kemarin kali ya….coz I really enjoy it!!! Relax banget euy!

Semalem aku nonton RAHASIA ILLAHI di salah satu televisi swasta. Biasanya acara tersebut mengambil waktu Senin malam, entah kenapa kemarin tuh jadi Minggu malam, trus episodenya ulangan, tapi ga pa-pa, soalnya yang duluan cuma nonton depannya doank ;p

RAHASIA ILLAHI tuh sinetron gitu lah! (I hate sinetron but not this!), yang mengangkat (katanya) kisah nyata tentang bagaimana Allah memberi contoh kepada yang masih hidup bahwa azab tuh bisa diturunkanNya ketika seseorang itu masih di dunia, ketika ruh telah tercerabut dari jasadnya. Tanpa mempersoalkan , ini kisah nyata or sungguhan, hanya berusaha memperoleh I’tibar dari tayangan tersebut. Episode semalam tentang seorang perempuan tua yang ditolak jasadnya oleh bumi (naudzubillahi min dzalik), saat penggali kubur selesai sejenak dari pekerjaan menggali kubur si perempuan itu, saat itu pula kubur menutup kembali seolah menolak kehadiran jasad si wanita dalam pelukannya. Di kisah semalam itu diceritakan si Ibu pernah melakukan dosa besar di masa hidupnya dan tiada pernah ada penyesalan terlintas di hatinya. Dikisahkan bahwa si Ibu telah menghilangkan nasab dari beberapa orang bayi pasien di tempatnya bekerja, si Ibu juga berlaku syirik, melakukan riba dan zina.

Dikisahkan juga akibat perbuatannya itu si Ibu selama 7 kali menunaikan ibadah haji, selama 7 kali itu pula dia tidak bisa melihat Baitullah (sekali lagi naudzubillahi Min Dzalik). Akhir cerita jasad si ibu tadi dibakar (nah…ini yang bingung, soalnya sosok yang membakar si Ibu tuh pake jubah hitam, kayak rahib-rahib jaman Robin Hood gitu, aku sendiri have no idea, malaikat kah? Iblis kah? atau orang yang menyamar?). Ga penting lah, yang penting pesan dari tayangan itu sendiri "Hai manusia...segeralah memohon ampunan dari Tuhanmu"

Hummmmm, syerem yaaaa, jadi berkaca sama diri, bagaimana bila saat itu tiba diri masih terbalut debu dosa, bagaimana bila saat itu tiba ampunan itu belum diberikanNya, bagaimana bila saat itu tiba sebelum kita menyadarinya……….tiba-tiba aku merasa dingin, ketakutan menyergapku. Apa aku sanggup menghadapi siksa kubur.
Perlahan aku geser dudukku mendekati mas Indra, takut……..


“Yang…….pindah bobo’ deh!”sentuhan lembut mas Indra di bahu menyadarkan aku.
Aku menggeleng dan berujar, “ngeri ya mas……..aku koq tiba-tiba takut mati ya …………”tuturku polos.
Dia hanya tersenyum, hummmmm lelaki yang sudah menemani hidupku setahun belakangan ini menatap dalam-dalam dan berkata,
“Makanya, rajin-rajin menghisab diri, jadi kita terus ingat untuk mempersiapkan diri menuju perjalanan akhir kita”
Aku hanya mengangguk-angguk, setuju…..
“Tau nggak, terkadang kita tidak menyadari, hanya karena lisan kita saja, kita bisa menjadi orang yang tekor dengan amalan kita. Kita merasa sudah beramal banyak dalam hidup kita, tapi kalo bergunjing saja masih menjadi hobi, boleh jadi kita akan menjadi manusia yang tekor di akhirat kelak”kata mas Indra sambil mengusap kepalaku. Katanya lagi, “dosa kecil yang sering kita tidak menyadarinya, makin lama malah bisa jadi dosa besar, iya ngga? Itu baru salah satu contoh, masih banyak khan kekhilafan yang mungkin saja kita lakukan, makanya hati-hatilah dalam bertutur dan bertindak, jangan membuat Allah murka.”
“Hehehe, iya ya mas.”aku nyengir, ingat sama kebiasaan burukku. Buatku sindirannya sebagai pengingat langkahku di hari-hari ke depan.

Malam pun kian larut, seiring dengan akhir tayangan acara tersebut di televisi, kami pun bersiap menuju peraduan.
Terima kasih Ya Allah, hari ini telah kau berikan kami pelajaran dan peringatan.

Ya Allah aku berlindung dari azab neraka dan azab qubur dan fitnah selama hidup dan mati dan fitnah dari dajjal

Tuesday, February 08, 2005

Selamat Tahun Baru




Bertitik tolak dari peristiwa hijrahnya manusia mulia, Muhammad SAW bersama dengan pengikutnya ke Madinah, waktu dimana terjadinya peristiwa itu ditetapkan oleh Khalifah Umar ibnu Khattab ra sebagai awal penghitungan sistem penanggalan Islam. Bagi kita umat beliau, Hijrah dapat diartikan perubahan langkah dalam hidup ini ke arah yang lebih baik.
Bukankah Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa orang yang hari ini dengan hari kemarinnya sama saja termasuk dengan golongan orang yang merugi, apalagi bila kehidupan hari ini lebih buruk dari kehidupan kemarin? Bukankah kita berada dalam kondisi lebih dari orang yang merugi?

Kalau hari kemarin, apa yang kita lakukan hanya sekedar dogma-dogma belaka, alangkah lebih baiknya bila sejak tahun baru ini apa yang kita lakukan adalah karena kita bisa memaknainya, agar kita bisa memberi ruh setiap amal perbuatan kita.
Karena hidup adalah perjalanan menuju keabadian.

Sahabat……senja Dzulhijah segera menjelang, izin kami sekeluarga mengucapkan:


Selamat Tahun Baru 1426 H
Semoga niat mulia yang kita pancangkan di awal tahun ini mendapat ridhoNya sehingga dapat membawa diri kita kepada yang lebih baik lagi, dan semoga kita semua termasuk kedalam golongan orang-orang yang beruntung.


tita&indra



…………. "Maka barangsiapa yang hijrahnya menuju (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu ke arah (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya itu karena dunia (harta atau kemegahan dunia), atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu ke arah yang ditujuinya", (HR. Bukhari)


Monday, February 07, 2005

Syukur kami di hari ini




Duhai kekasih hati / Kugubahkan nasyid ini
Sebagai tanda cinta suci / Dalam naungan Ilahi
Hari demi hari / Bersamamu kulewati
Dalam suka dalam duka / Dalam meniti ridho-Nya

Ikrarkan bersama / Untuk tetap dijalan-Nya
Bahtera rumah tangga / Teladankan rasul mulia

Didik putra-putri / Sebagai amanah Ilahi
Bekali akhlak imani / Jadikan mukmin sejati
Insya Allah...

(Dikutip dari lirik nasyid Dialog Dua
Hati-Suara Persaudaraan)


Sepenggal nasyid di atas yang selalu mengingatkan akan janji kami setahun yang lalu. Hari ini setahun yang lalu, kala mentari bersinar cerah dengan sinarnya yang bersahabat menaungi semua yang hadir dan menyaksikan ikrar yang diucapkan Mas Indra dihadapan Papah. Mitsaqon Ghaliza, perjanjian suci yang mengawali episode baru hidup kami berdua.

Setahun berlalu sudah, tiada yang dapat kami ucapkan, hanya syukur ke hadirat Yang Maha Rahman dan Maha Rahim, karena dia tumbuhkan rasa kasih dan sayang diantara kami berdua, dan dikukuhkan dalam ikatan yang suci dengan disaksikan para kerabat dan sahabat.
Dia yang telah mempertemukan kami, Dia pula yang memudahkan dan memungkinkan niat suci kami dalam menggenapkan separuh Dien.

Hanya atas izinNya, keyakinan, dan keinginan kami untuk terus belajar dalam hidup ini yang masih mengekalkan cinta kami hingga hari ini. Riak yang menggoyang bahtera kami, bukanlah penghalang pun alasan untuk menghentikan perjalanan ini. Namun rasa syukur dan keikhlasan dalam menjalani hidup bersama, untuk saling mengisi dan saling mengingatkan, adalah hikmah yang kami dapatkan.

Semoga Allah yang Maha Kasih selalu mencurahkan cintaNya kepada kami, dan menyuburkan cinta diantara kami berdua hingga ujung waktu.

Ya Allah,

sesungguhnya kami memohon kepada-Mu cinta-Mu
dan cinta orang-orang yang mencintai-Mu
serta cinta yang dapat mendekatkan kami kepada cinta-Mu.

Ya Allah,

jadikanlah segenap cinta kami bagi-Mu
dan seluruh usaha kami di dalam keridhaan-Mu.

(penggalan doá dicuplik dari Al-Jami'ush-Shahih, At-Tirmidzy)


Thursday, February 03, 2005

Jempol Kaki




“Jempol ahhhhh…kakiku….jempol ahhhhhh kakiku……”, ingat sebait lagu milik wong pitoe, mengingatkan aku pada hobby baru aku dan Lilis. Nginjek jempol ibu-ibu hamil! Koq gitu?!
Awalnya ketika kami sedang menikmati sarapan di markasnya kaum perempuan di kantorku (baca: tempat ngerumpi), PANTRY! Waktu itu salah seorang office girl kami, Yuli, menyuruh aku dan Lilis gini,

“Mba, injek jempolnya mba Elsye tuh…..biar ketularan hamil”
Sebagai info, aku dan Lilis termasuk pasangan di kantor yang telat hamil, nah, Elsye, teman kita itu sedang hamil anak keduanya.
“Koq gitu Yul? Biar kenapa”Tanya Lilis bingung dengan perintah Yuli.
“Kata orang dulu mba, kalo mo ketularan hamil, injek jempol kaki orang hamil, nanti ketularan deh. Temen Yuli juga gitu soalnya, waktu Yuli hamil, Yuli suruh dia injek jempol kaki Yuli, Alhamdulillah, dia hamil deh!”cerita Yuli meyakinkan.

Aku juga pernah dengar cerita kepercayaan orang dulu (orang kampung), bahwa dengan menginjak jempol kaki orang yang sedang hamil, nanti bisa ketularan. Mbah Mide, adiknya mbah (namanya Hamidah, berhubung kite orang betawi, manggilnye jadi Mide), pernah juga mengajari aku hal tersebut.

“Yang bener Yul, kalo gitu ntar di rumah gue bakal injek jempol kakinya si Saroh, pembantu gue yang lagi hamil. Sapa tau gue segera hamil”kata Lilis sambil nyengir.
Sementara Elsye hanya meringis sambil menyodorkan kedua jempol kakinya buat diinjek kita berdua. Ga rela.
“Nginjeknya jangan semangat mba, pelan aja, asal syarat”teriak Yuli memperingatkan, ketika melihat aku dengan semangat mengambil ancang-ancang untuk nginjek jempolnya Elsye.
Huahahahaha, Elsye ketakutan, aku mah seneng-seneng aja ngerjainnya, namanya juga manusia jahil sedunia. Urusan abis nginjek jempolnya Elsye terus hamil…..ya Alhamdulillah.

Tadi pagi ketemu Elsye di koridor, dia sudah siap-siap, bukan untuk meyerahkan jempol kakinya, tapi kayaknya untuk segera kabur, soalnya dia lihat gelagat aku yang segera ingin menerkamnya dan menginjak jempol kakinya, hehehehe (hari gini, masih ada aja yang percaya takhyul ;p).



Wednesday, February 02, 2005

Blind Date (inspired by si Rio)

Punya waktu dikit, beri aku kesempatan buat rehat dari rutinitas yang membuat sesak. Seperti biasa….blogwalking donk…..dapat referensi dari
Yaya buat sowan ke blog-nya Rio.

Ada salah satu ceritanya tentang blid date, hehehe, jadi inget pengalaman pribadi, coz I’ve done it too a long time ago. Bedanya, aku ga seperti si DaraManisnya Rio yang ambil insiatif ngajakin Rio nge-date duluan (kalo aku khan atas inisiatif temen).

Ceritanya dulu……aku barusan mengakhiri (tepatnya diakhiri, sedih yaaaa) hubungan dengan seseorang. Lumayan terpukul, soalnya sempat yakin, he’s my destiny, eh…ga taunya ga jadi (makanya, buat yang sedang having a relation, jangan kasih 100% deh rasa itu, sisain yang banyak buat jaga-jaga, kalo udah kepentok…..duh…sakitnya……hehehe, sok tua loe Ta!).
Trus waktu itu (seperti biasa) punya temen, yang awalnya sama seperti Pat (baca:My Distance Friend), akhirnya jadi deket banget. Namanya Yanti. Hampir setiap pagi dia morning call sama aku, ya sambil nagih, ya sambil curhat (hehehe, seperti T.W, sometimes I‘ll be my friend’s recycle bin). Mungkin karena udah kesering aku yang jadi pendengar setianya, suatu saat gantian dia yang mengorek tentang aku.

+ “Dah punya pacar Ta?”Tanya dia suatu kali
- “Baru putus! Kenapa Yan…punya kandidat?”jawabku acuh, males lagi, abis diputusin trus pacaran lagi.
+ “Elo mau gue kenalin, ada nih temennya cowok gue, temen kuliahnya di ITB…..”
Mataku mendadak bulat, mendengar nama sekolah teknik tertua di Indonesia itu. Hummmmm……lulusan ITB ya…boleh juga nih, gitu pikirku.
+ “Tapi Ta, physic tuh matter ga buat loe?”tanya Yanti menyelidik.
- “Emang napa Yan, gile loe, mosok menghina ciptaan Tuhan”
+ “Soalnya dia kecil Ta (baca:pendek)”
Hummmmmm….aku berpikir lagi, pendek ya….bukan tipe aku donk, but…size doesn’t matter lah! Lagian aku khan juga pendek, yang penting, ITB bo!!!
+ “Dulu dia pernah kerja di bagian RND-nya TIMOR, berhubung perusahaannya bubar, hingga saat ini dia belum kerja”
Hah?! Belum kerja batinku, tapi secepat itu pula aku men-switch pikiranku “as long as dia mo serius, ga pa-pa deh Yan, kalo soal rezeki khan Alloh yang ngatur” cieeeeee gitu kata aku sok bijak, maksudnya mengiyakan cepat supaya Yanti segera mengatur pertemuan itu. Duh…koq banyak handycapnya ya…..(batinku ragu).
+ “Anaknya gaul banget, temennya banyak dan gaya abissss, rambutnya aja kayak Primus.”
Heh?! Primus? Akhirnya ada juga yang bisa dibanggain dari dia.
Dan Yanti pun mengatur conference call antara aku, Yanti, dan dia.

+ “Boy”(pake nama Boy aja ya….yang gampang) “gue mo kenalin loe sama temen gue”gitu kata Yanti memulai pembicaraan, sementara aku diam menunggu (ga enak lagi, langsung nimbrung pembicaraan).
+ “Anak Trisakti lho”Yanti lagi berpromosi tentang aku. Ihhhh, ngapain sih bawa-bawa institusi, ntar dikira aku semodel Venna Melinda atau Berliana Febrianti, atau Alya Rohali lagih!
“Pake jilbab, pokoknya soleh lah!” aku…..soleh??? Jilbab iya…soleh mah jauh (huahahahaha ngaco deh nih anak!).
+ “Tapi dia maunya serius Boy, jadi, loe jangan coba-coba macem-macem sama temen gue!”ancam Yanti sesuai dengan permintaanku.
Trus aku terlibat pembicaraan standar orang berkenalan dengan si Boy. Beberapa kali kami saling menelpon, sampai akhirnya dia ngajakin kopi darat (gile yeeee, baru juga kenalan, udah ngajakin kopi darat!).
Akhirnya the first initial disepakati di sebuah resto di bilangan Blok M.

+ “Kamu dimana? Aku dah sampe ni, kamu pake baju apa? Aku pake baju item”gile si Boy nge-bel aku terus di hape, padahal saat itu aku bilang sama dia kalo aku mo mampir pasaraya dulu, buat sholat Maghrib.
+ “Kamu udah sampe mana? Koq berisik banget siy?” yak ampun ni bocah, ga tau apa kalo aku masih ada di atas Bajaj. “Boy…..”(kataku menjawab pertanyaannya), “aku lagi di Bajaj niy, tunggu aku di Gunung Agung aja ya, lantai 5”hehehe, tempat favoritku buat janjian, soalnya gampang dicari.

O iya, sebelum berangkat, aku sempat telpon Andi, penasehat spiritual (bukan deng, salah satu temen yang concern banget sama kelakuan aku).
- “Kendi…ada dimana loe”
+ “Gue lagi ngaudit di daerah Semanggi, napa Ta?”
- “Gue mo blind date niy, katanya dia anak ITB, temennya temen gue.”
+ “Udah kenal lama? Jangan mentang-mentang anak ITB trus loe hayo aja diajakin blin date, lagian koq ketemuan di jalan siy?” Andi emang care banget sama aku, dia ga rela kalau temennya kecewa lagi.
- “Tenang deh boss, kalo gue ga sreg, gue pulang aja, ga jadi ketemuan”
+ “Emang janjian dimana?”
- “Resto makanan Itali, di Blok M, tadinya dia ngajakin nonton, tapi gue pikir, kalo gue ga sreg, gue ga bisa segera menghindar”
+ “Ya udah, TTDJ, kalo loe ada apa-apa, loe telpon gue aja”
- “Oke boss”begitu aku menutup pembicaraan sama Andi.

Gunung Agung, Blok M Plaza

Aku langsung menuju ke Gunung Agung, sambil celingak-celinguk. Inget clue dari dia “aku pake baju hitam lho……”, trus inget juga pesen dari Yanti “yang paling bisa dikenalin dari Si Boy, rambutnya Ta, anak muda banget, pokoknya kayak Primus!”(itu lho model spike yang di tata dengan gel rambut).
Aku sapu pandanganku mencari si baju hitam. Ada pemuda, berperawakan agak gemuk (tapi manis), dia bukan ya…..batinku dalam hati “SEMOGA” soalnya orangnya lumayan manis. Tapi ketika aku pura-pura melintasinya, dia diam saja, oh…bukan kataku dalam hati. Trus ada lagi lelaki berbaju hitam, tapi koq tinggi ya…….bukan ini ah!
Then……….
Oh No!……koq ada cowok kecil dan kurus (nyaris kerempeng), berkaus hitam, celingak-celinguk memperhatikan keberadaan aku. Sesekali dia berusaha melemparkan senyumnya, aku masih berharap bukan dia…..jangan dia donk Tuhan…jangan dia ……….”.
Tapi…….. rambutnya!!!!Duh….Primus banget, spikey, jangan-jangan…….
+ “Tita ya?!”
Aduh mak….benar dia. Sambil membalas senyum, aku juga mengulurkan tangannya sambil menyebutkan namaku.

Segera kami menuju resto di lantai bawah mal tersebut.

+ “Kamu mo makan apa?”tegur dia menyadarkan aku. Yang tadinya laper, mendadak kenyang. Aku pikir, ngerti kali ya dia, ternyata dia tidak seperti yang dibayangkan oleh aku. Tau ga, waktu itu dia berkaus hitam, jungkies, rambutnya di-spike, dan dilehernya itu lho……..pake KALUNG RANTAI!!! Yak ampun, kayak rocker aja deh! Pokoknya jauh dari bayangan aku, bahwa lulusan ITB rapih, sementara dia tuh dandanannya ajaib banget. Ini mah anak PUNK (batinku, bete!).
Yang ada di kepalaku saat itu hanyalah, bagaimana supaya aku bisa kabur dari tempat itu.
Mulai deh dia cerita yang……… standar banget lah pokoknya, soal kuliahnya, soal asalnya (ternyata Padang juga bo! Nasibmu Ta..;p), tentang keluarganya, tentang kerjaannya. “Udah lama berjilbab? Adikku juga berjilbab lho!”ceritanya tentang adiknya, aduh Boy……so what gitu lho!!!
Sementara aku, berharap ada penyelamat yang datang (kalo bisa jadi Lois Lane, aku tinggal berbisik aja kali ya…Superman….HELP).

Suddenly hapeku bunyi. Andi!

- “Iya mah……aku masih di Blok M Plaza, iya sebentar lagi aku pulang”aku langsung nyerocos, seolah-olah mamah yang di ujung telpon sana. Sementara Andi teriak-teriak sendiri, “Ini gue Ta…ANDI!”
Lama-lama si Andi kayaknya ngerti, kalau aku masih bersama kembarannya Primus.
- “Ga usah dijemput mah, aku pake taksi aja”menolak tawaran jemputan Andi.
+ “Mamahnya ya? Kenapa? Disuruh pulang?”Tanya si Boy menyelidik.
- “Iya nih Boy, sorry ya, aku ga boleh kemaleman.Ga usah dianter, aku pulang sendiri aja pake taksi, rumahku khan jauh banget lho!”jawabku dengan muka meyakinkan banget.
Alhasil, aku diantarnya sampai depan lobby, sampai sebuah taksi sedia mengantarkanku pulang. Dalam taksi aku jadi senyum-senyum sendiri sambil nge-batin “Primus ;p”, sambil nyengir kuda.

Monday, January 31, 2005

Tell Her/Him Now!



Kemarin Jumat aku nonton sama mantan pacar. Ceritanya pengen mengulang masa-masa pacaran (maksudnya awal-awal pernikahan, yeeeeee curiga aje). Bubar kerja, kita janjian ketemuan di kantor mas Indra (aku yang memilih menyusul dia ke kantor, soalnya lagi pengen nge-busway wae euy!!!), kelar sholat maghrib kita ke TIM, soalnya relatif dekat dan ada film bagus yang pingin aku sama mas Indra tonton.

Judul film-nya If Only, yang main, Jennifer Love Hewitt sama Paul Nicholls. Cerita yang ber-setting di negaranya Pangeran Williams, mengisahkan bagaimana seorang pria yang diberi kesempatan kedua untuk mengungkapkan betapa dia sebetulnya sangat mencintai dan menyayangi kekasihnya (wuihhhhh, romantis banget yaaaaa, cocok dah buat nonton berdua sama yang disayang).

Jadi ceritanya, Samantha, seorang mahasiswi tingkat akhir sekolah musik yang memiliki seorang kekasih, Ian, yang ambisi mengejar karirnya. Cinta Samantha yang tulus pada sang kekasih seolah dikalahkan oleh cita-cita sang kekasih dalam mengerjar impian karirnya. Beberapa hal kecil sempat dilupakan sang kekasih, seperti menghadiri graduation partynya, her 1st concert, hingga kampung halaman kekasihnya di Ohio pun selalu tertukar dengan Indiana. Pokoknya Ian tuh memang tipikalnya lelaki kerja jaman sekarang yang di kepalanya hanya ada kerja…..kerja….dan kerja…..(hehehe, pengalaman pribadi). Hingga suatu ketika, kecelakaan yang merenggut nyawa Sam menyadarkan Ian betapa sebetulnya dia menyayangi Sam dan sangat kehilangan kekasihnya itu. Dia menyadari betapa Sam sangat dan dengan tulus mencintainya (sampai-sampai dia menuliskan lirik lagu tentang betapa dia mencintai Ian).

If only he’d told her what he really felt, If only he still have time to show how much he love her, If only he could re-live his last day with her and put things right…..if Only…..

Yang ada hanya penyesalan…..

Keesokan pagi setelah kematian kekasihnya itu, Ian dikejutkan oleh peristiwa dimana dia seperti diberikan kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahannya pada kekasihnya dan menghapus penyesalan yang dirasakannya. Ian mengalami De Javu. Ceritanya, dipagi itu, semua kejadian yang dialaminya kemarin berulang lagi, hanya dalam bentuk lain. Akhirnya Ian menyadari bahwa memang ia benar-benar diberi kesempatan untuk memperbaiki kejadian sebelum kematian kekasihnya itu, dan hal-hal yang romantis terjadi.

Ceritanya sih sederhana (sangat sederhana). Pesan yang ingin disampaikan film ini, If you love someone…..tell her/him that you love her/him, show how much you love her/him, coz we never know when our time will end………
Buat kami sendiri, film ini memberi kami inspirasi dikala waktu serasa tidak berpihak pada kami dan ego menguasai kami masing-masing, (mas Indra, dia langsung senyum-senyum sendiri “hehehe, ini film nyindir aku yaaaaa” gitu katanya). Aku juga mungkin begitu, terkadang aku mengabaikan mas Indra, ketika asyik dengan acara mengajar. Kadang, kita dan pasangan kita memang butuh waktu untuk hanya berdua, me-recharge cinta kita. Bukankah cinta itu harus tetap dipelihara?

Overall, film ini menarik buat ditonton (biarpun telat, soalnya orang lain mah udah pada nonton duluan kali ;p), menghibur banget, ada pesan yang bisa diambil (minimal membuat kita tersenyum dan saling melihat ke diri kami masing-masing) betapa sebetulnya ada orang yang selalu menunggu kita di rumah dengan sejuta (lebih mungkin yaaaa) cinta buat kita.


Note: buat Uni….jangan nakal lagi yaaaaaa, bentar lagi khan Uda pulang ;p


Tuesday, January 25, 2005

My Distance Friend




Sebetulnya, dari sejak zaman dahulu kala, aku paling seneng make friends. Bila masuk komunitas mana saja, bisa dipastikan ada satu hingga dua orang yang bakal jadi temen abadi buat aku setelah pertemuan itu(entah mereka yang menganggap begitu, ato aku yang ngintilin mereka trus, hehehe, sorry ma prenz…abis kalian enak siy dijadiin temen crita).
Mungkin emang udah karunia kali ya (alhamdulillah)….adaaaaa aja yang bisa aku bikin jadi bahan omongan untuk breaking the ice.

Aku mo crita, aku punya teman jauuuuuuh di seberang sana. Namanya Patricia Roehm, dia seorang wanita usia lanjut (kayaknya sih seumur mamah aku), keturunan Yahudi, dan tinggal di Amerika sana.

Perkenalan aku dengan dia karena urusan pekerjaan, dia supplier di kantor aku. Dia yang sering menghubungi aku di kantor untuk urusan bayar membayar. Karena perbedaan waktu yang cukup banyak antara Indonesia dengan Amerika, dia sering menelpon aku di kantor, ketika waktu di tempatnya tinggal mendekati tengah malam (kebayang donk…ngantuk-ngantuk dia nelpon aku!).

“Tita, I cannot sleep, I wonder, when can I expect the payment from you” begitu selalu katanya di awal pembicaraan.
Hahaha, tentu saja ucapannya itu membuat aku iba padanya. Iyalah! Karena dia yang menjalani usahanya sendiri, jadi dia sendiri juga yang berpikir mengenai keuangan perusahaannya. Suka ngebayang gituh, kalo aku punya usaha sendiri, trus kesulitan keuangan karena tagihan macet, sedih yaaaaaa.
Dari perkataan yang mengibakan tersebut akhirnya mengalir cerita di antara kami berdua.
Ternyata dia adalah seorang ibu dari seorang anak, yang katanya, seumuran dengan aku. Anaknya bekerja sebagai tenaga medis di US Navy. Obrolan kami tidak melulu soal keluarganya (apalagi urusan kerjaan), terkadang menyerempet pada hal-hal di luar bidang kami. Contohnya ketika kerusuhan Mei 1998, Black September, banyak hal yang dilihatnya hanya dari satu sisi saja, misalnya dia men-cap orang Arab tuh teroris, trus ga gitu suka sama orang Arab dan Asia yang berimigrasi ke negeri Paman Sam, katanya merebut lahan orang Amerika sendiri.
Dengan bahasa Inggris yang pas-pasan, aku membela saudaraku terutama yang berada di belahan Asia Barat sana. Yang seru ketika Amerika melancarkan agresinya ke Irak, aku sempat berdebat dengan dia menyampaikan ketidak setujuanku padanya (sampai-sampai teman-teman seruangan jadi geleng-geleng kepala sendiri liat kelakuan aku bertelepon), beberapa pendapatku dibenarkannya (atau dia males kali yaaa, berdebat dengan aku, ga ngerti bahasa Inggris aku yang asal ngejeplak, hehehe).
Pula setelah Tsunami kemarin, dia langsung mencari aku. Katanya, dia takut, aku dan keluargaku menjadi korban, padahal mah….Jakarta khan jauh dari Aceh (ah…dasar Pat!)

Banyak hal-hal yang dialaminya dalam keluarga diceritakannya pula kepadaku, seperti ketidak setujuannya atas pernikahan anak semata wayangnya, atau ketika dia harus merawat mendiang ayahnya, yang menurut ceritanya lumpuh karena diabetes. Dia bilang padaku bahwa dia kesal, harus merawat sendiri ayahnya (soalnya kebiasaan orang Amerika menitipkan kaum lansia di panti jompo) . Yang membuatnya kesal, tingkah ayahnya yang kembali seperti kanak-kanak (maklum sudah uzur), sering merengek, ngompol, dan buang hajat seenaknya. Hehehe, lucunya pada saat itu aku malahan cerita tentang almarhumah embah yang usianya tidak jauh berbeda dengan ayahnya (ceritanya tukar pengalaman nih!). Aku bilang, aku belajar dari ayat Quran (dia tau dan sangat menghormati aku sebagai muslim) bahwa setiap manusia yang mencapai usia lanjut, maka mereka akan bersikap seperti kanak-kanak kembali (QS 36:68),

“so…don’t ever…ever…be sad Ma’am, you will understand that God is very nice to you, He give you chance for being a nice daughter for your father. He wants you to take care your father before he gone. I believe that your father will thankful to God and pray for your life. ” begitu kataku.

Tau engga…….ucapanku itu jadi inspirasi banget buat dia, dan dia semangat dan ikhlas banget ngerawat ayahnya hingga akhir hayatnya (padahal sebelumnya dia mau mengajukan euthanasia buat ayahnya lho!).
Ketika ayahnya pergi, aku termasuk orang pertama yang dikabarinya.

Sejak awal kami berkenalan, setiap akhir tahun, selalu dikiriminya aku cokelat (cokelatnya enak-enak lho! Dan bentuknya pun lucu-lucu), berhubung aku ga begitu doyan, almarhumah embah yang sering kecipratan rejeki itu. Dan aku pun bercerita pada Pat, betapa embah senang sekali dengan hadiah cokelat darinya, walaupun makannya juga dalam jumlah yang sedikit.

Kamis lalu (20/01/2005) aku menerima paket dari Pat. Katanya “for your wedding, Tita!” Dohhhh…Oma yang ini payah deh, mosok wedding present dikasih setahun kemudian, cocoknya mah buat first anniversary atuh Oma……;p. Dia bilang juga kalau hadiah itu sebagai tanda terima kasihnya karena aku senang mendengarnya bercerita dan memberi inspirasi baginya. Alhamdulillah deh, bisa jadi teman yang baik. Dia beri aku vas bunga, mangkok dan candle holder yang kesemuanya terbuat dari keramik disepuh emas di bibir masing-masing barang tersebut (kiriman cokelat tetap ada donk!).
Yang bikin aku terharu, ada sebuah kotak di bungkus kertas merah jambu dan dibalut pita manis, di atasnya disematkan kartu dengan tulisan “For Tita’s grandma”. Kontan ada cairan hangat yang mengalir dari sudur mataku.

Tadi pagi dia menelpon aku, setelah say thanks for the present, aku bilang padanya,

“Thanks Pat for the present, too bad, my lovely grandma already gone, she passed away few days after we celebrate Eid and asking apologize to each other. She cannot enjoy your chocolate anymore, but I believe, if she were with me now, she will thankful for the present. ”
Dan kita berdua pun bertangisan……hiks!

Lucu ya, kami berdua belum pernah kenal wajah masing-masing, apalagi bertemu, tapi buat aku, dia seperti sahabat-sahabat yang ada di dekat aku. Banyak pengalaman hidupnya yang dia bagi dengan aku, tapi banyak hal pula yang mau didengarnya dari aku Lagipula, itukan esensi dari sebuah persahabatan, mendengar dan didengar.
Thanks Pat….for being my friend, you inspired me too…….


Thursday, January 20, 2005

QurBan


mbeeee......

Hari ini Umat Islam di seluruh dunia merayakan Idul Adha atau dikenal juga sebagai Idul Qurban, meskipun dibeberapa tempat masih diwarnai perbedaan, tapi ga papa, yang penting apa yang kita jalani bukan tanpa dasar (maksudnya pilihan kita berdasarkan ilmunya, gitu lho!).

Idul Adha means bakal banyak kambing atau sapi yang disembelih (hehehe, jujur, sampai hari ini, aku masih ga tega lihat penjagalan mereka!). Idul Adha means juga ada pembagian daging qurban kepada saudara-saudara yang kurang beruntung.
Kalau ingat latar belakang sejarahnya, ibadah qurban ini sebagai pengejawantahan cinta Ibrahim A.S, manusia mulia, Bapak bangsa Arab, kepada TuhanNya. Dia (Ibrahim) diperintahkan untuk menyembelih anak kesayangannya, Ismail A.S, anak yang sudah lama dinantinya, anak yang taat padanya, sebagai bukti, apakah kecintaannya pada Allah SWT akan terkalahkan oleh cintanya kepada sang buah hati.

Ibrahim memang manusia besar yang patut dijadikan tauladan bagi umat-umat yang hidup hingga akhir jaman. Bayangkan, anak yang lama dinanti diperintahkan untuk disembelih, oleh tangannya sendiri. Hummmm, mungkin karena aku pun bernasib sama dengan Ibrahim (maksudnya belum diamanati seorang anak, bentar lagi kali yaaaa, amien!), aku ga bakal sanggup melakukan itu (makanya aku juga ga mungkin jadi Nabi). Mungkin aku akan bernego dengan Tuhan (hehehe, mungkin engga ya……) mending aku aja yang disembelih (lho?!). Itu mungkin yang bisa menggambarkan betapa tipisnya imanku, jika dihadapkan pada kejadian seperti itu.

Dari perenungan ini, ada sesuatu yang bisa aku ambil hikmahnya. Betapa Allah itu Maha Rahman dan Rahim pada umatNya (terutama aku sebagai insan). Tidak akan diturunkannya cobaan yang melebihi kapasitas umatNya. Tapi terkadang manusia sering cengeng (termasuk aku tentunya!), baru diberi cobaan sedikit, eeeeeehhhhh, udah ngeluh, putus asa. Padahal cobaan yang diberikanNya itu agar Dia tahu, “seberapa besar sih cintamu pada Ku…wahai umatKu!!!”
“Apa kalian hanya mengingatKu disaat susah dan sempit mu? Lantas kalian lupa siapa sebetulnya kalian di bumi yang aku pinjamkan kepada kalian.”
MasyaAllah!!! Kalau Allah sampai mempertanyakan itu kepada kita, betapa tidak tahu dirinya kita manusia. Semua dalam hidup ini, hanya pinjaman dari Nya.
Sebetulnya Dia pun tidak akan merugi, bila diantara umatNya ada yang mengingkariNya, Allah itu Maha Kuasa, apapun bisa dilakukanNya.

Pernah seorang teman yang tidak se-iman mempertanyakan, mengapa kami, umat Muslim masih patuh, tidak memakan babi (yang dilarang olehNya), padahal sesuai perkembangan jaman, segala hal yang terkandung dalam babi dan ditakutkan membahayakan kesehatan manusia (iya khan? Jaman dahulu kita sering diceritakan, katanya babi mengandung cacing pita yang membahayakan kesehatan manusia), seiring dengan perkembangan jaman dapat dieliminir. Jadi tidak ada yang harus ditakuti lagi.
Aku bilang, “Segala sesuatu yang diperintahkan dan dilarangNya adalah agar Dia tahu, sampai sejauh mana umatNya tetap mentaatiNya. Kalau dari satu perintah saja sudah ditaati manusia, maka bukan tidak mungkin manusia yang mengimani keberadaanNya, akan mentaati perintah-perintahNya yang lain, yang justru akan membawa kita pada keselamatan di dunia dan hari setelah kematian kita. Kalau bukan karena mengimani keberadaanNya, belum tentu umat Islam mau mentaati perintahNya dari sejak manusia pertama diciptakan, hingga hari akhir kelak. Jadi ketaatan kami bukan sekedar kami takut tubuh kami dipenuhi cacing pita, naïf sekali!”
Kalau sudah begitu, temanku hanya terdiam. Dogmatis memang, tapi bukan berarti kita hanya menerima tanpa pernah terpikir, mengapa begini-mengapa begitu. Melalui penciptaanNya lah kita manusia harus terus berpikir dan menyadari keberadaan dan kebesaranNya.

Sama halnya dengan qurban. Ibadah ini adalah aplikasi dari keimanan kita pada Allah SWT, betapa Dia menguji apakah kita manusia masih dapat bersyukur dalam kesempitan dan tidak bakhil dengan segala yang dititipkanNya kepada kita.

Ya…..hidup ini hanya titipan, hanya pinjaman, kelak akan diminta pertanggungjawabannya.

Selamat Hari Raya Qurban yaaaaaa
Have a Nice Long Weekend, sobat!!!!

Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu ni’mat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena TuhanMu; dan berqurbanlah! (QS 108:1-2)


Monday, January 17, 2005

Mengajar Lagi




Huaaaaaa……SENIN :( means kerja…kerja….dan kerja. Rasanya libur 2 hari buat aku ga berasa gitu loh!!! (hehehe, ketularan).

O, iya, kemaren Sabtu adalah kali pertama aku ngajar di sebuah Perguruan Tinggi, yang selama ini jadi salah satu target untuk tempat ngumpulin jam terbang. Kenapa, karena institusinya yang lebih besar, lebih settle, lebih oke, dari my previous post (tapi bukan berarti aku meremehkan kampus yang selama ini telah menempa aku menjadi seorang dosen lho…), artinya tantangannya pun lebih besar lagi.
Padahal awalnya aku sudah bertekad mo rehat sejenak dari dunia ajar-mengajar (aku sendiri sudah resign dari posisi Kajur di kampus yang lama), soalnya mo mulai usaha lagi “mengejar mentari” (bikin dede’ bouw! ;p). Mungkin sudah jalannya, mantan Sekjur aku yang sekarang menggantikan posisi aku menjadi seorang Kajur, Senin yang lalu malahan menawarkan aku untuk mengajar di tempatnya mengajar. Sebuah kampus di bilangan By-Pass Jaktim (mungkin pada tau yaa….yang sering dijadikan syuting sinetron ;D).

Yang membuat aku brake my decision buat mengajar lagi (yang pasti sudah seizin Mas Indra donk!) karena:
1.Hanya mengajar dalam 5 kali pertemuan saja (karena ini kelas eksekutif, jadi pertemuannya dimampatkan menjadi 5 kali saja)

2.Mata Kuliahnya Akuntansi Pemerintahan. Akhirnya…..back to origin euy……selama ini walaupun aku lulusan akuntansi, tapi mata kuliah yang aku ajar kebanyakan mata kuliah jurusa manajemen dan ekonomi umum. Jadi….sedikit menantang gitu loh! ;D

3.Kampusnya deket, udah gitu dapet waktu sore pula, jadi pagi masih sempat istirahat sampai siang, pulangnya langsung pulang dan…..ISTIRAHAT lagheeeee. ;D

4.Ehem…..ini yang penting engga penting…honornya lumayan lah…….pokoknya bisa beli toilet duduk buat our new home at Jati Asih (heuheuheu)

Nah….trusnya nih……dapet kepercayaan seperti itu bukan trus aku tinggal santai, datang, mengajar. Engga lagi! Masalahnya, survey membuktikan, mata kuliah ini termasuk mata kuliah yang…..“kalo boleh, ga usah ngambil aja deh!” (soalnya aku pun hingga hari ini bingung, apa ya tujuan diajarkannya mata kuliah ini, karena antara teori dengan praktek, jauh panggang dengan api!). Tau kenapa? Karena sulit (bahkan tidak mungkin) dilakukan konsolidasi antara Laporan Keuangan Pusat dan Daerah. Makanya mantan ketua BPK, Sugandhi, pernah mempertanyakan "berapa siy besarnya kekayaan Indonesia". Sulit diukur khan..., hehehe, ini mah hanya intermezzo.
Yang aku kontak pertama, tentunya temen-temen yang masih fresh dengan mata kuliah ini, supaya ngerti, gimana siy perkembangan ilmu tersebut sampai dengan hari ini. Akhirnya dapat lah aku buku acuan mengajar. Buku yang digunakan hampir semua perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Tapi, buku ini tidak menarik untuk dibaca, mungkin karena cara penulisannya ya…dari segi kelengkapan, buku ini paling representatif dan diwajibkan untuk dijadikan referensi.
Tapi…ya…itu, karena aku mau mahasiswa aku dapat menerima dan mengerti (walaupun hanya sedikit) apa yang aku sampaikan dalam waktu yang sangat singkat (gileeee, biasanya, aku mengajar untuk 12-14 kali pertemuan), akhirnya aku putuskan menggunakan buku karangan Revrisond Baswir, ekonom dari UGM. Bukunya ringan, dan InsyaAllah mudah untuk dimengerti oleh para mahasiswaku.

Akhirnya, Sabtu kemarin adalah hari pertama aku mengajar. Di awal mengajar (seperti biasa) aku buat beberapa aturan main, yang buat sama-sama enak lah, jadi aku InsyaAllah engga dianggap horror sama mahasiswa aku. Alhamdulillah lancar (hanya ada satu pertanyaan mahasiswa aku yang sempat bikin aku black-out di depan kelas). Mudah-mudahan mahasiwa aku kelak tidak terkena sindroma akuntansi pemerintahan phobia.

Yah…smoga lancar terus deh hingga akhir pertemuan nanti, paling tidak goal aku mengajar yang “ikut mencerdaskan kehidupan bangsa” (cieeeeeeeeeeee) bisa tercapai, walaupun hanya sedikit. Btw, emang para mahasiswaku merasa ikut tercerdaskan?!(sambil garuk-garuk kepala).

Notes :
1.buat TW, met ngajar ya dik……..smoga tujuanmu ikut mencerdaskan kehidupan bangsa juga tercapai (woiiiiii…yang diajar bimbingan akademik daku tuuuu…titip ya dik dan jangan digalak-in, hehehe)

2.thanx buat Milda….for giving me this chance (kalo ada lagi masih mau koq….tapi yang 5 kali pertemuan aja yaaaaa)


Quote for today
Tanamkan dalam setiap detik satu pujian, setiap menit satu gagasan, dan setiap jam satu pekerjaan
(Aidh al-Qarni ; As’ad al-Maráh fi al-‘Alam/Menjadi Wanita Paling Bahagia)


Wednesday, January 12, 2005

Gitu Lho!!!




Entah siapa yang mempopulerkan ungkapan ini, tapi belakangan ini, seringkali aku dengar disekitarku mengucap ungkapan ini.

“Enak gitu lho!” atau “….gitu lho!” anything lah…trus ditegaskan dengan “Gitu Lho!!!”
Kebanyakan yang menggunakan ungkapan ini adalah wanita-wanita usia 20-30an. Namun demikian banyak juga anak-anak usia belasan yang mulai ikut-ikutan menggunakan ungkapan ini, pun kanak-kanak yang masih di bangku sekolah dasar.
Sah-sah aja sih……sama sahnya ketika Jaja Miharja mempopulerkan Ni yeeeeee pada sekitar tahun 80-an silam. Atau ketika Eko Patrio juga mempopulerkan ungkapan Kasihan deh Lo!

Apa sih yang membuat ungkapan-ungkapan tersebut menjadi ungkapan nasional? Yang pasti, kata-kata tersebut diucapkan oleh orang-orang yang dikenal masyarakat luas (artis toh?!), trusssss yang aku perhatiin lagi, ungkapan tersebut diucapkan sambil ngeledek lawan bicara. Benar tidaknya hipotesis ini, biar yang lain saja yang membuktikan. Cuma yang fenomenal itu (menurut aku yaaaa), hampir seluruh masyarakat Indonesia ikut-ukutan melafalkan ucapan tersebut. Terserah! Sebetulnya aku juga ga gitu peduli, GITU LHO!!!

***

Sobat…..ada tawaran menarik. FAHIMA atau Forum Silaturahmi Muslimah, akan mengadakan Workshop Membuat Web Sederhana berbasis HTML. Mengapa workshop ini menjadi menarik dan sayang untuk dilewatkan, karena yang kita butuhkan hanya, Komputer yang memiliki O/S windows, Program Front Page, dan Yahoo Messenger, jadi bisa kita ikuti tanpa harus mengorbankan kegiatan kita yang lain. Pengajarnya, (kalo engga salah) saudara-saudara kita yang ada di negerinya OSHIN sana. Untuk informasi komplitnya…silahkan klik ke www.fahima.org workshopnya sendiri akan dimulai tanggal 17 Januari 2005, dan pendaftaran sudah dimulai dari sekarang. So…c’mon, klik www.fahima.org
PS : Ladies only yaaaaaaa (gitu pesannya)



Friday, January 07, 2005

Mermaid


mermaid found in Philippines

Sore tadi aku dapet imel dari temennya Mas Indra, Mba Lia. Mosok dia kirim imel, katanya ditemukan mermaid (putri duyung) di Philipina.

Bener ngga ya? Tapi kalo ngebandingin antara cerita jaman masa kecil dulu dengan apa yang ada di gambar koq jauh yaaaaaa. Waktu kecil dulu, gambaran seorang (atau seekor ya?) putri duyung itu cantik dan lucu. Lho ini koq menyeramkan yaaaa.
Lagh ini mah gambar persilangan antara manusia dengan ikan bandeng (huahahahahahaha). Ini teknik foto atau beneran yaaaa.

Met liburan sobat smua……smoga liburannya berkesan…….

Buat Yaya……thx yaaa udah sering-sering mampir, kapan-kapan bikinin aku puisi yaaaaa (hehehe).


Wednesday, January 05, 2005

Tutup Buku means Mabok ;p




Nasib jadi seorang accountant, kalo udah akhir bulan, apalagi tutup buku seperti sekarang gini, udah dipastikan…..SIBUK BERATTTTT.
Lembur udah bisa dipastikan hampir tiap malam, selama seminggu (tergantung load kerjaannya sih). Aku biasanya udah nyicil dari akhir tahun, jadi awal tahun tinggal bikin adjustment aja. Yang bikin mabok, adalah saat-saat seperti ini, laporan akhir yang aku dan teman-teman buat harus free from misstatement and error, soalnya yang nuntut itu bukan hanya manajemen, tapi juga auditor dan share holder. Pfiuffff…..apalagi tahun 2004 kemaren banyak banget pesawat yang dijual, trus bayarnya offset sama utang, bete!!! Memaksa aku buat stay lebih malam di kantor.

Perasaan dulu tidak pernah terpikir buat jadi seorang tukang catat duit orang (iya khan…yang dicatat seorang akuntan bukan duité dewe toh?!). Dulu cita-cita pengen jadi engineer…electro engineer, soalnya terinspirasi papah yang selalu berkutat dengan instrument radar, minimal bermanfaat bakal ngereparasi tipi sama radio di rumah. Nasib, ga keterima UMPTN trus malahan mengarahkan aku untuk menimba ilmu di fakultas ekonomi jurusan akuntansi. Itu juga ga sengaja, soalnya pengen masuk fakultas teknik, tapi ga boleh sama mamah, kata mamah, “jangan….ntar kalo kuliah di elektro trus brenti di tengah jalan, mo jadi tukang solder? Kalo di ekonomi khan misal ga kelar masih bisa kerja kantoran.” Dasar aja aku anak penurut, ya udah trima usul mamah masuk jurusan akuntansi. Trus juga dikasih contoh Bi Nining, adiknya mamah yang juga jadi akuntan di sebuah bank asing, duitnya banyak, heu-euh aja aku trus nurut. Jadilah kuliah di jurusan akuntansi.

Trus dengan berjalannya waktu, jadi ngerti kalo seorang akuntan tuh ga hanya kerja dibelakang meja aja. Dengan menjadi seorang auditor, bisa keliling Indonesia, trus kerjanya ga melulu di belakang meja.
Hehehe, 3 bulan nyoba jadi auditor malahan mabok, abis pulangnya selalu di atas jam 10 malam. Teler donk! Jadi mikir, gimana kalo berkeluarga yaaaaaaaa.
Akhirnya masuk perusahaan, tempat aku kerja sekarang. Emang sih, kerjanya ga seberat auditor. Masih sempat pulang jam 5 teng-GO. Hanya di periode laporan aja pulang telatnya, itu juga tergantung, kalo load kerjaan aku bulan itu banyak, kayak ada penjualan pesawat atau terjadi sesuatu pada persediaan spare parts yang mengharuskan diadakan stock take. Selebihnya mah santai.

Tapi, ini kali adalah kali pertama aku lembur setelah nikah. Duhhhh, koq capek banget ya…dan merasa bersalah gitu sama mas Indra (walaupun dia pulang telat juga, diuber kerjaan dari BI).
Jadi dosen? Enak siy…….hanya kali ini lagi bosen, soalnya waktu liburan di akhir minggu jadi kesita sama urusan ngajar.
Mungkin lebih enak kerja dari rumah ya, kayak jadi penulis, kontributor, designer, konsultan, pokoknya segala kerjaan yang bisa dikerjain dari rumah. Pokoknya hanya bermodal komputer, modem, sama keahlian kita deh……..
Atau…enakan di rumah ajah, saban bulan trima duit yang banyak…bisa senang-senang, ga mikirin yang bikin kepala jadi meledak…..mengkhayal ajah! Bersyukur aja lah…..

Udah ah…pengen pulang cepet…kayaknya bentar lagi ini kepala mo meledak!!! Terusin besok lagi aja deh :)


Thursday, December 30, 2004

Di ujung Senja 2004




Sebentar lagi, tanggalan masehi 2004 akan habis, berganti 2005. Yang udah pasti, kita manusia bertambah umur. Makin dekat kubur. Heh :-P

Hummm, kalo inget ritual tahun-tahun baru yang lalu, jujur aku sendiri lebih seneng menghabiskan waktu di rumah (soalnya Jakarta udah pasti macet), selalu aku lewati dengan segala kemeriahannya. Masa-masa ‘tahun baruan’ dengan hura-hura bukan ga pernah aku jalani. Udah lagi! Jaman kuliah dahulu kala bareng temen-temen buka kamar di hotel berbintang. Malam tahun baru kita lewati dengan ngobrol, ketawa-ketawa, trus pas tengah malam keluar hotel tiup trompet, udah gitu begadang sampe pagi.
Atau tahun baruan dilewatkan dengan nginep sama temen se-gank (taelah……kuna banget yak istilahnyah!) di rumah salah satu temen kita. Trus masih dengan menu yang sama, ketawa-ketiwi dan begadang! Jarang dilewati dengan tafakur (sekali-kalinya pernah juga sih, jaman kuliah dulu lewatin malam tahun baru ikutan pesantren kilat, itu juga sekali-kalinya).
Trus juga keliling Jakarta, liat kemeriahan tahun baruan. Kayaknya bisa dipastikan seluruh penduduk Jakarta, larut dalam kegembiraan tradisi ini. Petasan dan kembang api dibakar, memerahkan langit Jakarta. Panggung-panggung keria-an didirikan hingga ke pelosok kota ini. Pokoknya tahun baru means perayaan besar.

Kayaknya ga adil ya kalo tahun ini perayaan besar seperti itu tetap juga dilangsungkan, sementara saudara-saudara kita di ujung Utara negeri ini sedang dirundung duka. Mereka bukan hanya butuh sumbangan kita…..trus….selesai. Bukan..…bukan itu aja. Betapa masih banyak mayat-mayat yang bergelimpangan di sana dan belum dikuburkan. Betapa banyak tubuh-tubuh telanjang yang membutuhkan pakaian untuk mengusir dingin. Betapa banyak perut-perut lapar yang harus diberikan makanan. Betapa banyak saudara-saudara kita yang membutuhkan dekapan kita sebagai penghibur duka mereka.
Adakah terpikirkan oleh kita, arief kah kita dengan tetap menjalankan ritual itu?

Salut buat Unilever Indonesia yang membatalkan acara menyambut pergantian tahun di Kafe Taman Semanggi. Salut buat BSM yang juga membatalkan acara Milad-nya di penghujung tahun ini, dan mengirimkan seluruh kaos Milad ke Aceh. Salut buat semua yang masih peduli sama saudara-saudara kita di NAD sana.

Sebentar lagi tahun baru, kalau masih diberi umur panjang, InsyaAllah kita bertemu lagi tahun depan. Kantor libur, komputer mati, artinya beranda rumah cyber kami juga akan sepi. Untuk sejenak.
Tidak ada yang istimewa yang akan kami berdua lakukan, mungkin hanya merenung dan bersyukur, betapa begitu luas karunia Illahi pada kami berdua. Atau malahan hanya kita lewati begitu saja, tidur bouw! :-P
Apapun yang kami berdua pilih untuk malam tahun baru nanti, ketika kalender 2004 diturunkan, kami berharap agar kami selalu bisa bersyukur atas semua yang Dia berikan untuk kami, baik dalam lapang….maupun sempit kami.

Selamat Tahun Baru……selamat punya kalender baru & agenda baru….selamat berlibur….titip-titip beranda kami yaaaaa…….

"Wahai anak cucu Adam,
engkau hanyalah kumpulan dari hari-hari yang terhitung.
Bila berlalu satu hari berarti hilanglah sebagian darimu.
Jika hilang sebagian darimu maka bertambah dekatlah saat kematianmu.
Kalau engkau sudah mengetahui hal itu Maka segeralah berbuat!
(Beramal, bersiap dan berbekallah)."


( Hasan al-Bashri )



Sekilas info :
Saat ini PMI pusat sedang membutuhkan banyak relawan yang akan dikirim ke
Aceh dan sekitarnya
Persyaratan:
1. Memiliki Kartu Identitas
2. Sehat fisik dan Mental
3. Mendapatkan ijin dari Orang tua/ Keluarga
Segera kirim bio data ke : sdmpusat@pmi.or.id


(pengen euy…….apadaya ga boleh sama suami :-P)